Gamelan Jawa Mengarungi Gelombang Sejarah

Pujangga Ranggawarsita dalam Pustaka Raja Purwa menginformasikan mengenai transformasi sosial-budaya masyarakat Jawa dari Hindu-Buddha yang membawa pengetahuan tentang bunyi, seperti kicauan burung, kuda dan gajah yang menginspirasi terciptanya nada pukulan pada alat tertentu semacam kendang, ketipung ataupun sejenisnya.

Proses bermain nada melahirkan gamelan Jawa yang mengalami berbagai inovasi penambahan komponen alat musik pengiringnya. Yang demikian itu terdapat pada reflief bangunan candi Prambanan, Borobudur ataupun Candi Penataran. Oleh karena itu, Bambang Yudoyono berani mengklaim bahwa gamelan muncul pertama kali pada sekitar tahun 326 Saka atau 404 M.

Bambang Yudoyono dalam buku Gamelan Jawa: Awal-Mula, Makna, dan Masa Depannya yakin gamelan Jawa diciptakan oleh Batara Guru  (nenek moyang atau leluhur manusia Jawa yang dianggap sangat sakti) yang masih dalam bentuk alat musik Membranofon (alat musik pukul yang terbuat dari kulit sapi atau kambing) pada tahun 227 Saka atau 355 Masehi.

Adapun alat musik yang digenggam dan dipukul-pukul mulanya berbentuk batu. Berdasarkan kajian antrpologis-historis, alat musik Membranofon merupakan alat musik dasar sebelum terjadinya gamelan Jawa secara utuh sebelum masyarakat India mulai berdatangan ke Indonesia.

Gamelan Jawa mengarungi gelombang sejarah bersamaan dengan perubahan kegunaan, dari alat upacara hingga media berdakwa. Setiap nada slendro dalam gamelan Jawa mampu memberi kesan mistis sehingga cocok untuk upacara keagamaan yang sakral. Pada masa Hindhu-Buddha, gamelan Jawa dimainkan untuk mengiringi ritual sesaji.

Karena masyarakat Jawa telah akrab dengan gamelan dan mendarah daging dalam persoalan mistis, maka oleh beberapa pendakwah digunakan untuk menyebar luaskan agama Islam. Proses Islamisasi di Jawa yang paling efektif dan efisien jelas melalui budaya lokal. Tradisi dan gagasan mistis yang menurut Koentjaraningrat dalam buku Kebudayaan Jawa ini kental diolah dengan kreatif sambil menyisipkan ajaran Islam.Salah satu penyiar agama berbakat adalah Sunan Kalijaga yang memberi inovasi baru dalam nada pada Gong. Ulama terkenal sekaligus anggota wali songo ini menciptakan lagu ilir-ilir yang bermuatan Islam sufistik.

Sunan Kalijaga memanfaatkan bakat bermain gamelan untuk berdakwah. Syarat menonton aksi panggungnya hanya membasuh kedua kaki dan mengucap kalimat syahadat sampai pengaruh Islam tersebar luas. Gamelan pun menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Jawa.

Setiap malam dan sehabis pulang bekerja kecuali hari Jum’at, musik gamelan mengisi sunyi rumah-rumah masyarakat Jawa. Lengkap sudah dengan digunakannya gamelan untuk kegiatan ritual seperti upacara sekaten untuk memperingati maulid nabi Muhammad.

Kedatangan bangsa Eropa ke Jawa cukup mempengaruhi persepsi masyarakat terhadap seni pertunjukan gamelan. Seni pertunjukan Jawa yang bersifat irasional dalam artian terlalu banyak muatan mistis, pelahan-lahan terasionalkan.

Sekitar paruh pertama abad ke-19, para seniman Jawa mengadopsi seni gaya barat tapi tetap mempertahankan unsur lokal yang menjadi identitas autentiknya. Memasuki abad ke-20, gamelan Jawa menjangkau ranah pendidikan sebagai kegiatan ekstrakulikuler. Ki Hajar Dewantara mengangkat pembelajaran akan budaya lokal yang menggunakan gamelan sebagai contohnya.

Ki Hajar Dewantara bahkan mencoba berinovasi dalam bermain gamelan. ia berupaya menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan gamelan sebagai pengiring musik. Namun, upaya memadukan musik gamelan Jawa yang pentatonik dengan tanda nada musik modern yang diatonis mengalami kegagalan.

Meskipun begitu, Ki Hajar Dewantara menginspirasi beberapa komponis untuk menggarap karya-karya mereka dalam kredo instrumen sebagai sumber bunyi sehingga memecah masalah dilema pentatonis-diatonis di era 1970-an.